Pemburu
Keindahan
Ciptaan :
Fatchurrodin Habibi
Kelas XI-MIA2 Absen 15
Tugas Bahasa Indonesia
Pada sore hari yang melelahkan, dalam benakku muncul
suatu rencana, yaitu pergi ke kota untuk beli buku. Dan dalam pikiranku hanya
satu teman yang pasti mau pergi denganku, sebut saja dia Tara. “Tar, nanti malam
jalan-jalan ke kota ya?” ajakku. “Gampang, mau ngapain ke kota?” balasnya.
“Beli buku di toko G,” jawabku singkat. Diapun meanjawab singkat pula, “Ok,”.
Ketika kami selesai berunding tentang rencana kami
tadi, datang dua teman kami. Namanya Wiranto dan Karunia. “Ada apa ini?” tanya
Wiranto kepada kami. “Nanti malam kami mau pergi jalan-jalan ke kota kalian mau
ikut nggak?” imbuh dari Karunia. “Memang rencana kami nanti malam ingin pergi
ke kota mau beli buku,” jawab Tara. “La emang kalian ngapain mau pergi ke kota
nanti malam?” tanyaku pada kedua temanku tadi. “Jalan-jalan cari angin malam.”
Kata Wiranto. “Kalau gitu barengan aja berangkatnya biar rame, tapi kalian beli
bukunya dimana?” tanya Karunia. “Ke M Plaza mau ke toko buku G,” jawabku. “OK!”
jawab meraka bertiga dengan kompak. Dan kami pulang dulu ke rumah
masing-masing.
Di rumah saya bilang kepada bapakku, bahwa nanti
setelah maghrib aku mau pergi beli buku ke kota bersama temanku. “Kamu ada uang
berapa?” tanya bapakku. “Ada pak, tapi sedikit. Entah cukup atau tidak.”
Jawabku. “Ini ada 300 ribu, bawa aja.” kata bapakku sambil mengulurkan uang
kepadaku. “Makasih Pak!” jawabku.
Maghrib telah selesai. Dan aku pun langsung
berangkat menjemput temanku Tara sebelum Tara. “Kamu nanti mau beli buku apa saja?”
tanya Tara padaku. “Nggak tau nanti mau beli apa masih bingung. Pokoknya nanti
lihat-lihat dulu aja,” jawabku. Dan setelah itu kami berangkat. Kami berangkat
berdua. Dan ternyata dua temanku yang lain sudah menunggu di pinggir jalan.
Kami akhirnya berangkat bersama.
Akhirnya kami sampai dilokasi, tepatnya di M Plaza,
aku bertanya pada Wiranto,”Tujuanmu kemana?”. “Aku mau ke SS dulu ajha mau
lihat sepatu futsal,” jawabnya. “Aku dan TB mau ke toko G dulu mau beli buku,”
jawab dari Tara. “Ok,” jawab Wiranto bersamaan dengan jawaban dari Karunia.
Akhirnya kami berpisah dulu. Wiranto jalan dengan Karunia sedangkan Aku jalan
dengan Tara.
Aku dan Tara menuju ke lantai 3 M Plaza, tepatnya
menuju ke toko G. “Dimana tempatnya buku SMA ini?” tanya Tara padaku. “Aku juga
nggak tahu, aku nggak pernah nyari buku didini, kearah kanan aja deh,” jawabku
sembari berjalan kearah kanan. Dan ternyata arah tersebut tidak salah. Kami
akhirnya menemukan tumpukan buku pelajaran bagi SMA. “Hayo! Kalau udah tahu
begini kamu mau beli apa?” tanya Tara. “Tapi kog cuma ada satu targetku.
Seharusnya 3 targetku.” Jawabku. “Berarti targetmu sama denganku?” tanyanya
l;agi. “Iyalah kita kan sehati,” jawabku sambil bergurau. Kamipun masih
mencari-cari buku yang lain yang kita tergetkan.
Lama
mencari-cari sekitar selama 10 menit dan tidak mendapatkan hasil akhirnya kami
pun menyerah. “Ya udah, nggak ada, ayo ke kasir!” ajakku. “Ayo!” jawabnya
singkat. Namun, “La pertanyaanku, dimana kasirnya?” tanyaku. “Kog malah nanya
aku,” jawabnya. Kamipun bertanya kepada pegawai toko yang ada, “Mbak mohon
maaf, mau bertanya, kasirnya dimana ya?” tanyaku. “Ow.. itu ada tulisan Rp
belok kiri mas,” ujarnya. “Makasih mbak,” balas dari Tara. Kami pun bergegas
kekasir dan membayar buku yang mau kita beli.
Selesai membayar buku, kami pergi untuk menemui
Wiranto dan Karunia. Kami tanya kepada mereka, “Kemana acara selanjutnya?”
tanyaku. “Kafe” jawab Wiranto. “Ok aja,” jawab Tara. Dan kami bergegas menuju
ke Kafe.
Di kafe kami pesan minum dan makana. Namun karena kita
cukup bosan dengan suasana kafe, kamipun terdiam saja. Semua sibuk dengan
gadgedtnya sendiri-sendiri. “Rencana selanjutnya apa ini?” tanyaku memecah
kebosanan. “Foto-foto!” jawab Karunia. “Dimana?” tanya Tara. “Jembatan C,”
jawab Wiranto. “Ok, meluncur ke TKP, siap 86!” jawab kami bersama.
Kita pergi meninggalkan kafe dan menuju ke jembatan
C. Disana kami foto-foto dengan asyik dan tanpa rasa lain. Kami foto dengan
latar belakang obyek yang bagus. Yaitu suasana lalu lintas yang ramai pada
malam hari. Dan juga objek yang sangat bagus yaitu patung penjual dan pembeli
pecel. Namun da hal-hal aneh yang kita rasakan disekitar jembatan tersebut.
Hal-hal tersebut tak membuat kami mersa takut. Namun hal-hal tersebut malah
membuat kami berempat malah semakin termotivasi untuk tetap berfoto-foto. Namun
lama kelamaan suasana semakin panas. Dan, “Kamu mencium bau yang tidak sedap
seperti bau amis dan bau busuk seperti bau bangkai, iya nggak?” tanya Tara
padaku dengan berbisik. “Ya tadi ada bau seperti bau bangkai. Sumbernya dari
bawah jembatan. Tapi baunya muncul dan pergi tiba-tiba dengan intensitas yang
sering.” Kataku. “Ya benar, tapi perasaanku patung itu di dalamnya ada yang
nunggu,” kata Tara. Dan hal-hal itu terbukti, karena dalam beberapa foto kita
terdapat banyak orbs. Yaitu penampakan energi ghaib yang tidak kuat. Dan kita
memutuskan untuk menyudahi foto-foto kita pada pukul 22.30.
Dengan kejadian tadi malam, yang menurut kita
hal-hal ghaib itu juga narsis, terbukti dari gayanya dalam beberapa foto kita.
Hal tersebut semakin membuat kami senang untuk hal-hal yang berbau ghaib
seperti itu. Dan kita pun membuat sebuah tim pemburu keindahan. Baik keindahan
di pagi, siang, sore, dan malam hari. Dan tim kita itu bernama “Jejak Para
Serigala”.
Kita menyusun rencana untuk berburu keindahan.
Termasuk berburu keindahan ghaib pada tempat-tempat yang sedikit mistik,
seperti di jalan yang sering terjadi kecelakaan namu hal tersebutt kita lakukan
pada malam hari pada saat suasana mulai sepi.
Dua hari kemudian, kita melakukan perburuan terhadap
keindahan sunset. Biasanya banyak orang menikmati sunset di daerah dataran
rendah serta di daerah pantai. Namun tidak dengan kita. Kita menikmati sunset
malah didaerah sedikit tinggi yaitu diperbukitan. “Hari ini kita mau hunting kemana?”
tanyaku pad Wiranto. “Ke daerah timur sana saja, kelihatannya asyik.” katanya.
“Ok, meluncur ke TKP, siap 86!” Tanpa basa-basi kita langsung meluncur dengan
personil Abdi, Aku, Karunia, Nafi’, dan Wiranto.
Kita berangkat dengan santai sambil menikmati
keindahan-keindahan alam sekitar dan juga mencari spot foto yang cocok. “Dimana
ini spot yang cocok?” tanyaku pada semua. “Terserah!” kata Wiranto. Kita terus
mengendarai sepeda motor dan semakin naik keatas bukit. Namun ternyata semakin
keatas malah semakin banyak rumah penduduk. “Disini saja, kelihatannya asyik
ada sunset.” Kata Abdi. “Ok aja,” jawabku. “Acara kita disini berfoto-foto.
Dengan adanya sunset, maka kita membuat siluet saja,” kata Wiranto. “Pasti
bagus itu,” jawab kita bersama. Kita lalui sorre itu dengan foto-foto dengan
latar belakang sunset maka dari itu lebih indah untuk membuat sunset.
Kita puas dengan hasil foto-foto sore itu. Telah
puas perasaan kita akan siluet yang kita hasilkan tadi. Kita bergegas pulang
setelah pembuatan siluet berhasil. Namun aku dan Abdi tidak pulang tapi malah
langsung kerumah karunia. Nafi’ dan Wiranto pulang kerumahnya masing-masing.
Tanpa kita sadari, saat dirumah Karunia, muncullah sebuah ide. “Bagaimana kalau
malam ini kita pergi ke Kafe, siapa tahu nanti muncul ide-ide gila lain untu
berburu lagi!” kataku. “Ok, ide bagus itu,” sahut Abdi dan juga Karunia.
Kita kabari teman-teman yang tadi ikut berburu sunset.
Namun, Nafi’ tidak bisa. Malah Tara yang ikut pergii ke kafe. Malam itu juga
kami langsung bergegas pergi ke kafe, tapi yang pasti setelah maghrib. Dan kita
tiba di kafe pukul 19.00. Kita berada di kafe sekitar 1 jam mungkin kurang
mungkin lebih. Namu selama itu pula kita semua seperti terbisu. Karena semua
sibuk dengan gadgetnya sendiri. Aku yang bingung bengong, dan minumanku habis
duluan, bersikap jail dengan menghabiskan minuman temen yang masih. Tujuan
utamaku agar biar lebih cepat foto-foto. Yuk berngkat,” kataku. “Lo..
minumannya kog habis semua? Wow dasar brengsek,” kata Tara. Namun rencana itu
berhasil. Semuanya akhirnya bergegas ke Taman.
Ketika ditaman kita mencari spot untuk foto yang
cocok dan bagus. “Foto bareng dulu, baru foto sendiri-sendiri,” kata Sulta.
“Selfie barang biar adil,” kata Wiranto. “Yuk.. mari!” sahut Karunia dengan
ekspresi alay. Kita menggunakan obyek lampu taman yang berwarna kekuningan
sebagai latar belakang foto.
Kita tak puas karena foto-foto hanya berlatang
belakang lampu taman. Kita mengeluh satu sama lain. Dan akhirnya muncul sebuah
ide. Ide tersebut yaitu tentang rencana kita pergi hunting ke RR. Dan tanpa
pikir panjang, dengan modal kamera, uang seadanya dan juga niat nekad kita
berangkat.
Kita berangkat berenam dengan tiga motor. Aku dengan
Tara, Abdi dan Wiranto, serta Karunia bersama Sulta. Kita berangkat dengan
santai. Namun lama kelamaan kita semakin ugal-ugalan. Hal tersebut dipengaruhi
oleh faktor jalanan yang sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00.
Ternyata di RR banyak anak muda yang nggak jelas.
Dan dibawah jembatan juga banyak preman. Kita berhenti sebentar dan berunding.
“Kamu berani foto-foto disana?” tanyaku pada Wiranto. “Terserah sih,” jawabnya.
“Nggak usah ah, aku takut nanti terjadi apa-apa, jika terjadi apa-apa siapa
yang tanggung jawab?” kata Abdi. “La terus kemana?” tanya Tara. “Ikuti aku
saja!” kata Abdi. “Ya udah terserah,” jawabku. Dan kita pergi mengikuti Abdi.
Kita berhenti disebuah jembatan. Kita tertarik pada
bulan dan bayangannya di perairan. Namu kita tak berpikir bahwa itu objek
utamanya. Setelah beberapa kali pengambilan gambar, baru terbenak didiri kita,
bahwa mengambil gambar dengan latar belakang jalan serta lalu lalang Bus serta
kendaraan-kendaraan besar juga sangat indah. “Asyik, disini jembatanyya bisa
goyang,” kataku. “Objeknya juga dapat,” sahut Wiranto. Kita pun memuaskan
hasrat kita di tempat ini. Mesti terbenak dalam diri kita rasa kecewa karena
gagal berfoto-foto di RR. Kita selesai pada pukul 23.00
Tapi dalam perjalanan, muncul lagi keinginan untuk
hunting lagi. Dan muncullah ide untuk berfoto-foto di SC. Tapi ternyata, SC
sudah tutup, terpaksa kami pun pulang. Dan selesailah pengalamanku hunting pada
malam itu.