Jumat, 17 Oktober 2014

Pemburu Keindahan

Ciptaan : Fatchurrodin Habibi
Kelas XI-MIA2 Absen 15
Tugas Bahasa Indonesia

Pada sore hari yang melelahkan, dalam benakku muncul suatu rencana, yaitu pergi ke kota untuk beli buku. Dan dalam pikiranku hanya satu teman yang pasti mau pergi denganku, sebut saja dia Tara. “Tar, nanti malam jalan-jalan ke kota ya?” ajakku. “Gampang, mau ngapain ke kota?” balasnya. “Beli buku di toko G,” jawabku singkat. Diapun meanjawab singkat pula, “Ok,”.
Ketika kami selesai berunding tentang rencana kami tadi, datang dua teman kami. Namanya Wiranto dan Karunia. “Ada apa ini?” tanya Wiranto kepada kami. “Nanti malam kami mau pergi jalan-jalan ke kota kalian mau ikut nggak?” imbuh dari Karunia. “Memang rencana kami nanti malam ingin pergi ke kota mau beli buku,” jawab Tara. “La emang kalian ngapain mau pergi ke kota nanti malam?” tanyaku pada kedua temanku tadi. “Jalan-jalan cari angin malam.” Kata Wiranto. “Kalau gitu barengan aja berangkatnya biar rame, tapi kalian beli bukunya dimana?” tanya Karunia. “Ke M Plaza mau ke toko buku G,” jawabku. “OK!” jawab meraka bertiga dengan kompak. Dan kami pulang dulu ke rumah masing-masing.
Di rumah saya bilang kepada bapakku, bahwa nanti setelah maghrib aku mau pergi beli buku ke kota bersama temanku. “Kamu ada uang berapa?” tanya bapakku. “Ada pak, tapi sedikit. Entah cukup atau tidak.” Jawabku. “Ini ada 300 ribu, bawa aja.” kata bapakku sambil mengulurkan uang kepadaku. “Makasih Pak!” jawabku.
Maghrib telah selesai. Dan aku pun langsung berangkat menjemput temanku Tara sebelum Tara. “Kamu nanti mau beli buku apa saja?” tanya Tara padaku. “Nggak tau nanti mau beli apa masih bingung. Pokoknya nanti lihat-lihat dulu aja,” jawabku. Dan setelah itu kami berangkat. Kami berangkat berdua. Dan ternyata dua temanku yang lain sudah menunggu di pinggir jalan. Kami akhirnya berangkat bersama.
Akhirnya kami sampai dilokasi, tepatnya di M Plaza, aku bertanya pada Wiranto,”Tujuanmu kemana?”. “Aku mau ke SS dulu ajha mau lihat sepatu futsal,” jawabnya. “Aku dan TB mau ke toko G dulu mau beli buku,” jawab dari Tara. “Ok,” jawab Wiranto bersamaan dengan jawaban dari Karunia. Akhirnya kami berpisah dulu. Wiranto jalan dengan Karunia sedangkan Aku jalan dengan Tara.
Aku dan Tara menuju ke lantai 3 M Plaza, tepatnya menuju ke toko G. “Dimana tempatnya buku SMA ini?” tanya Tara padaku. “Aku juga nggak tahu, aku nggak pernah nyari buku didini, kearah kanan aja deh,” jawabku sembari berjalan kearah kanan. Dan ternyata arah tersebut tidak salah. Kami akhirnya menemukan tumpukan buku pelajaran bagi SMA. “Hayo! Kalau udah tahu begini kamu mau beli apa?” tanya Tara. “Tapi kog cuma ada satu targetku. Seharusnya 3 targetku.” Jawabku. “Berarti targetmu sama denganku?” tanyanya l;agi. “Iyalah kita kan sehati,” jawabku sambil bergurau. Kamipun masih mencari-cari buku yang lain yang kita tergetkan.
 Lama mencari-cari sekitar selama 10 menit dan tidak mendapatkan hasil akhirnya kami pun menyerah. “Ya udah, nggak ada, ayo ke kasir!” ajakku. “Ayo!” jawabnya singkat. Namun, “La pertanyaanku, dimana kasirnya?” tanyaku. “Kog malah nanya aku,” jawabnya. Kamipun bertanya kepada pegawai toko yang ada, “Mbak mohon maaf, mau bertanya, kasirnya dimana ya?” tanyaku. “Ow.. itu ada tulisan Rp belok kiri mas,” ujarnya. “Makasih mbak,” balas dari Tara. Kami pun bergegas kekasir dan membayar buku yang mau kita beli.
Selesai membayar buku, kami pergi untuk menemui Wiranto dan Karunia. Kami tanya kepada mereka, “Kemana acara selanjutnya?” tanyaku. “Kafe” jawab Wiranto. “Ok aja,” jawab Tara. Dan kami bergegas menuju ke Kafe.
Di kafe kami pesan minum dan makana. Namun karena kita cukup bosan dengan suasana kafe, kamipun terdiam saja. Semua sibuk dengan gadgedtnya sendiri-sendiri. “Rencana selanjutnya apa ini?” tanyaku memecah kebosanan. “Foto-foto!” jawab Karunia. “Dimana?” tanya Tara. “Jembatan C,” jawab Wiranto. “Ok, meluncur ke TKP, siap 86!” jawab kami bersama.
Kita pergi meninggalkan kafe dan menuju ke jembatan C. Disana kami foto-foto dengan asyik dan tanpa rasa lain. Kami foto dengan latar belakang obyek yang bagus. Yaitu suasana lalu lintas yang ramai pada malam hari. Dan juga objek yang sangat bagus yaitu patung penjual dan pembeli pecel. Namun da hal-hal aneh yang kita rasakan disekitar jembatan tersebut. Hal-hal tersebut tak membuat kami mersa takut. Namun hal-hal tersebut malah membuat kami berempat malah semakin termotivasi untuk tetap berfoto-foto. Namun lama kelamaan suasana semakin panas. Dan, “Kamu mencium bau yang tidak sedap seperti bau amis dan bau busuk seperti bau bangkai, iya nggak?” tanya Tara padaku dengan berbisik. “Ya tadi ada bau seperti bau bangkai. Sumbernya dari bawah jembatan. Tapi baunya muncul dan pergi tiba-tiba dengan intensitas yang sering.” Kataku. “Ya benar, tapi perasaanku patung itu di dalamnya ada yang nunggu,” kata Tara. Dan hal-hal itu terbukti, karena dalam beberapa foto kita terdapat banyak orbs. Yaitu penampakan energi ghaib yang tidak kuat. Dan kita memutuskan untuk menyudahi foto-foto kita pada pukul 22.30.
Dengan kejadian tadi malam, yang menurut kita hal-hal ghaib itu juga narsis, terbukti dari gayanya dalam beberapa foto kita. Hal tersebut semakin membuat kami senang untuk hal-hal yang berbau ghaib seperti itu. Dan kita pun membuat sebuah tim pemburu keindahan. Baik keindahan di pagi, siang, sore, dan malam hari. Dan tim kita itu bernama “Jejak Para Serigala”.
Kita menyusun rencana untuk berburu keindahan. Termasuk berburu keindahan ghaib pada tempat-tempat yang sedikit mistik, seperti di jalan yang sering terjadi kecelakaan namu hal tersebutt kita lakukan pada malam hari pada saat suasana mulai sepi.
Dua hari kemudian, kita melakukan perburuan terhadap keindahan sunset. Biasanya banyak orang menikmati sunset di daerah dataran rendah serta di daerah pantai. Namun tidak dengan kita. Kita menikmati sunset malah didaerah sedikit tinggi yaitu diperbukitan. “Hari ini kita mau hunting kemana?” tanyaku pad Wiranto. “Ke daerah timur sana saja, kelihatannya asyik.” katanya. “Ok, meluncur ke TKP, siap 86!” Tanpa basa-basi kita langsung meluncur dengan personil Abdi, Aku, Karunia, Nafi’, dan Wiranto.
Kita berangkat dengan santai sambil menikmati keindahan-keindahan alam sekitar dan juga mencari spot foto yang cocok. “Dimana ini spot yang cocok?” tanyaku pada semua. “Terserah!” kata Wiranto. Kita terus mengendarai sepeda motor dan semakin naik keatas bukit. Namun ternyata semakin keatas malah semakin banyak rumah penduduk. “Disini saja, kelihatannya asyik ada sunset.” Kata Abdi. “Ok aja,” jawabku. “Acara kita disini berfoto-foto. Dengan adanya sunset, maka kita membuat siluet saja,” kata Wiranto. “Pasti bagus itu,” jawab kita bersama. Kita lalui sorre itu dengan foto-foto dengan latar belakang sunset maka dari itu lebih indah untuk membuat sunset.
Kita puas dengan hasil foto-foto sore itu. Telah puas perasaan kita akan siluet yang kita hasilkan tadi. Kita bergegas pulang setelah pembuatan siluet berhasil. Namun aku dan Abdi tidak pulang tapi malah langsung kerumah karunia. Nafi’ dan Wiranto pulang kerumahnya masing-masing. Tanpa kita sadari, saat dirumah Karunia, muncullah sebuah ide. “Bagaimana kalau malam ini kita pergi ke Kafe, siapa tahu nanti muncul ide-ide gila lain untu berburu lagi!” kataku. “Ok, ide bagus itu,” sahut Abdi dan juga Karunia.
Kita kabari teman-teman yang tadi ikut berburu sunset. Namun, Nafi’ tidak bisa. Malah Tara yang ikut pergii ke kafe. Malam itu juga kami langsung bergegas pergi ke kafe, tapi yang pasti setelah maghrib. Dan kita tiba di kafe pukul 19.00. Kita berada di kafe sekitar 1 jam mungkin kurang mungkin lebih. Namu selama itu pula kita semua seperti terbisu. Karena semua sibuk dengan gadgetnya sendiri. Aku yang bingung bengong, dan minumanku habis duluan, bersikap jail dengan menghabiskan minuman temen yang masih. Tujuan utamaku agar biar lebih cepat foto-foto. Yuk berngkat,” kataku. “Lo.. minumannya kog habis semua? Wow dasar brengsek,” kata Tara. Namun rencana itu berhasil. Semuanya akhirnya bergegas ke Taman.
Ketika ditaman kita mencari spot untuk foto yang cocok dan bagus. “Foto bareng dulu, baru foto sendiri-sendiri,” kata Sulta. “Selfie barang biar adil,” kata Wiranto. “Yuk.. mari!” sahut Karunia dengan ekspresi alay. Kita menggunakan obyek lampu taman yang berwarna kekuningan sebagai latar belakang foto.
Kita tak puas karena foto-foto hanya berlatang belakang lampu taman. Kita mengeluh satu sama lain. Dan akhirnya muncul sebuah ide. Ide tersebut yaitu tentang rencana kita pergi hunting ke RR. Dan tanpa pikir panjang, dengan modal kamera, uang seadanya dan juga niat nekad kita berangkat.
Kita berangkat berenam dengan tiga motor. Aku dengan Tara, Abdi dan Wiranto, serta Karunia bersama Sulta. Kita berangkat dengan santai. Namun lama kelamaan kita semakin ugal-ugalan. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor jalanan yang sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00.
Ternyata di RR banyak anak muda yang nggak jelas. Dan dibawah jembatan juga banyak preman. Kita berhenti sebentar dan berunding. “Kamu berani foto-foto disana?” tanyaku pada Wiranto. “Terserah sih,” jawabnya. “Nggak usah ah, aku takut nanti terjadi apa-apa, jika terjadi apa-apa siapa yang tanggung jawab?” kata Abdi. “La terus kemana?” tanya Tara. “Ikuti aku saja!” kata Abdi. “Ya udah terserah,” jawabku. Dan kita pergi mengikuti Abdi.
Kita berhenti disebuah jembatan. Kita tertarik pada bulan dan bayangannya di perairan. Namu kita tak berpikir bahwa itu objek utamanya. Setelah beberapa kali pengambilan gambar, baru terbenak didiri kita, bahwa mengambil gambar dengan latar belakang jalan serta lalu lalang Bus serta kendaraan-kendaraan besar juga sangat indah. “Asyik, disini jembatanyya bisa goyang,” kataku. “Objeknya juga dapat,” sahut Wiranto. Kita pun memuaskan hasrat kita di tempat ini. Mesti terbenak dalam diri kita rasa kecewa karena gagal berfoto-foto di RR. Kita selesai pada pukul 23.00

Tapi dalam perjalanan, muncul lagi keinginan untuk hunting lagi. Dan muncullah ide untuk berfoto-foto di SC. Tapi ternyata, SC sudah tutup, terpaksa kami pun pulang. Dan selesailah pengalamanku hunting pada malam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar